3
(TKP)
Kami sampai di sekitar jembatan
ketika seorang perempuan datang ke arah kami seraya melambaikan tangannya.
“Aldo !”
“Rani !” Aldo dan Rani lalu
berpelukan erat. Tak lama kemudian mereka melepaskan pelukannya. “O, ya Aldi,
kenalkan ini Rani, pacarku, Rani, ini Aldi, dan sebelahnya Shinta, sepupu
Aldi,”
“Rani,”
“Aldi,”
“Shinta,”
“O, ya Ran, Aldi ini detektif yang
akan menyelidiki kasus kematian orangtua kamu,” Rani seperti terkjut. Atsmofer
pun mulai berubah. Kenyataan kasus ini makin terbaca.
“Aldo, kenapa si, kamu manggil –
manggil detektif kesini, aku ngga ingin kematian orangtua ku diungkit – ungkit
lagi!”
“Tapi Rani,”
“Ngga ada tapi – tapian!”
“Baiklah nona Rani yang manis, jika
aku tak boleh menyelidiki kasus kematian orangtuamu, bagaimana kalau aku
berkunjung ke rumahmu, anggap saja, aku dan sepupuku bertamu ke rumahmu, dalam
rangka liburan ku kali ini,” Rani tampak sedikit melunak.
“Terserah kalian saja, tapi jika
kalian ingin mencari sesuatu mengenai kematian orangtua ku, kalian tak akan menemukannya!”
“Oke nona manis,” Aku menjawab
ancaman Rani dengan gurauan, sedangkan Shinta dan Aldo terbingung – bingung dengan sifatku yang tak
terpancing emosi walaupun Rani sudah sekasar itu.
“Aldi, aku percayain kasus ini ke
kamu, aku yakin kamu bisa memecahkannya, Rani akhir – akhir ini memang berubah,
ngga kaya Rani yang dulu,”
“O, ya ngomong – ngomong tentang
Rani yang dulu, kamu ada fotonya ngga?”
“Ada nih,” Aku mengambil foto Rani
yang dulu, muungkin sangat dulu sekali, karena, terdapat beberapa perbedaan
dari tubuhnya, jikalau dari sikap, mungkin aku harus mengorek informasi lebih
dalam lagi.
“Kenapa Kak?” Aku tersenyum sembari
memberikan foto Rani yang dulu ke Aldo.
“Shinta, gimana aku ngga senyum,
lihat, pemandangan rumah TKP kasusnya seindah itu,” Ujarku seraya menunjuk
rumah Rani, yang berada hampir di tebing 90°, dan jalan menuku rumah itupun
terjal, namun kanan – kirinya terdapat bunga – bunga yang sangat indah,seperti
bunga anggrek ungu dan putih, bunga dandoffil,
eforbia, dan masih banyak yang
lainnya, jika melihat situasinya, aku teringat lagu lawas yaitu, bukit
berbunga, ‘Di bukit, indah berbunga, kau
mengajak aku ke sana, tangamu, kau sentuh di pundak, membawa aku melangkah, tak
lupa kau petik, bunga warna ungu, lalu kau selipkan di rambutku,’. Aku
tersenyum dengan lagu nostalgia ini.
“Iya kan Do, itu rumahnya Rani?”
“Iya betul, kok kamu tahu si ?”
“Karena kamu telah merani – ranikan
hatiku, ha ha ha… enggak kok, aku lihat Rani tadi berjalan ke arah sana,”
“Lho bukannya kamu tadi lagi
merhatiin fotonya Rani Kak?”
“Bodoh, seorang detektif, tidak
boleh melewatkan satu hal kecilpun”
“Kamu memang hebat Aldi,” Aldo
memujiku, aku jadi tidak enak hati, batinku.
“Sudahlah, lebih baik kita langsung
ke TKP nya, Do,”
“Ayo, mari,” Perjalanan kami menuju
rumah Rani, tidak bisa dianggap mudah, jalannya yang terjal, serta kecuramnnya
cukup membuat adrenalin terpacu, jika aku dan Shinta tidak terbiasa dengan
olahraga yang cukup keras, mungkin, kami sudah pingsan sedari tadi.
“Baiklah kawan – kawan, kita sudah
sampai,”
“Hhhh… capek, eh WAHHH… indah
banget,” Shinta yang sampai duluan langsung mengagumi kuasa tuhan yang sungguh
indah, di bumi Bandung ini. “ Kak Aldi, buruan! Ntar ngga kebagian lho!”
“Iya, pemandangannya ngga lari ini
!” Aku mengamati tempat yang membuatku hampir terperosok tadi. Kucoba
memukulnya dengan tanganku. Terdengar bunyi nyaring seperti kentongan. Aku
terkejut, ternyata, di dalam tebing ini tidak hanya menyimpan misteri tentang
Rani, tapi juga mungkin kenapa sikap Rani berubah dan misteri pembunuhan
orangtua Rani dapat terungkap secepat mungkin.
“Hei nak, bisa lebih cepat sedikit?”
Tiba – tiba halusinasi akan hantu muncul sesaat di kepalaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar