Jumat, 19 Juli 2013
3
(TKP)
Kami sampai di sekitar jembatan
ketika seorang perempuan datang ke arah kami seraya melambaikan tangannya.
“Aldo !”
“Rani !” Aldo dan Rani lalu
berpelukan erat. Tak lama kemudian mereka melepaskan pelukannya. “O, ya Aldi,
kenalkan ini Rani, pacarku, Rani, ini Aldi, dan sebelahnya Shinta, sepupu
Aldi,”
“Rani,”
“Aldi,”
“Shinta,”
“O, ya Ran, Aldi ini detektif yang
akan menyelidiki kasus kematian orangtua kamu,” Rani seperti terkjut. Atsmofer
pun mulai berubah. Kenyataan kasus ini makin terbaca.
“Aldo, kenapa si, kamu manggil –
manggil detektif kesini, aku ngga ingin kematian orangtua ku diungkit – ungkit
lagi!”
“Tapi Rani,”
“Ngga ada tapi – tapian!”
“Baiklah nona Rani yang manis, jika
aku tak boleh menyelidiki kasus kematian orangtuamu, bagaimana kalau aku
berkunjung ke rumahmu, anggap saja, aku dan sepupuku bertamu ke rumahmu, dalam
rangka liburan ku kali ini,” Rani tampak sedikit melunak.
“Terserah kalian saja, tapi jika
kalian ingin mencari sesuatu mengenai kematian orangtua ku, kalian tak akan menemukannya!”
“Oke nona manis,” Aku menjawab
ancaman Rani dengan gurauan, sedangkan Shinta dan Aldo terbingung – bingung dengan sifatku yang tak
terpancing emosi walaupun Rani sudah sekasar itu.
“Aldi, aku percayain kasus ini ke
kamu, aku yakin kamu bisa memecahkannya, Rani akhir – akhir ini memang berubah,
ngga kaya Rani yang dulu,”
“O, ya ngomong – ngomong tentang
Rani yang dulu, kamu ada fotonya ngga?”
“Ada nih,” Aku mengambil foto Rani
yang dulu, muungkin sangat dulu sekali, karena, terdapat beberapa perbedaan
dari tubuhnya, jikalau dari sikap, mungkin aku harus mengorek informasi lebih
dalam lagi.
“Kenapa Kak?” Aku tersenyum sembari
memberikan foto Rani yang dulu ke Aldo.
“Shinta, gimana aku ngga senyum,
lihat, pemandangan rumah TKP kasusnya seindah itu,” Ujarku seraya menunjuk
rumah Rani, yang berada hampir di tebing 90°, dan jalan menuku rumah itupun
terjal, namun kanan – kirinya terdapat bunga – bunga yang sangat indah,seperti
bunga anggrek ungu dan putih, bunga dandoffil,
eforbia, dan masih banyak yang
lainnya, jika melihat situasinya, aku teringat lagu lawas yaitu, bukit
berbunga, ‘Di bukit, indah berbunga, kau
mengajak aku ke sana, tangamu, kau sentuh di pundak, membawa aku melangkah, tak
lupa kau petik, bunga warna ungu, lalu kau selipkan di rambutku,’. Aku
tersenyum dengan lagu nostalgia ini.
“Iya kan Do, itu rumahnya Rani?”
“Iya betul, kok kamu tahu si ?”
“Karena kamu telah merani – ranikan
hatiku, ha ha ha… enggak kok, aku lihat Rani tadi berjalan ke arah sana,”
“Lho bukannya kamu tadi lagi
merhatiin fotonya Rani Kak?”
“Bodoh, seorang detektif, tidak
boleh melewatkan satu hal kecilpun”
“Kamu memang hebat Aldi,” Aldo
memujiku, aku jadi tidak enak hati, batinku.
“Sudahlah, lebih baik kita langsung
ke TKP nya, Do,”
“Ayo, mari,” Perjalanan kami menuju
rumah Rani, tidak bisa dianggap mudah, jalannya yang terjal, serta kecuramnnya
cukup membuat adrenalin terpacu, jika aku dan Shinta tidak terbiasa dengan
olahraga yang cukup keras, mungkin, kami sudah pingsan sedari tadi.
“Baiklah kawan – kawan, kita sudah
sampai,”
“Hhhh… capek, eh WAHHH… indah
banget,” Shinta yang sampai duluan langsung mengagumi kuasa tuhan yang sungguh
indah, di bumi Bandung ini. “ Kak Aldi, buruan! Ntar ngga kebagian lho!”
“Iya, pemandangannya ngga lari ini
!” Aku mengamati tempat yang membuatku hampir terperosok tadi. Kucoba
memukulnya dengan tanganku. Terdengar bunyi nyaring seperti kentongan. Aku
terkejut, ternyata, di dalam tebing ini tidak hanya menyimpan misteri tentang
Rani, tapi juga mungkin kenapa sikap Rani berubah dan misteri pembunuhan
orangtua Rani dapat terungkap secepat mungkin.
“Hei nak, bisa lebih cepat sedikit?”
Tiba – tiba halusinasi akan hantu muncul sesaat di kepalaku.
Senin, 15 Juli 2013
1
(Detective Aldi 21)
Hi, guys ! Perkenalkan,
namaku Aldi, Aldiyansyah P. Usiaku 14 tahun, sedangkan kini aku bersekolah di
SMK N 1 Bawang, ex-RSBI. Ya kawan,
gelar sekolah itu sudah di cabut sekarang oleh pemerintah, tapi tak apalah,
kami masih merasa bersekolah di RSBI.
Aku
sangat suka dengan semua cerita mengenai Detektif, tapi yang paling favorit
adalah “Detective Conan” karangan Gosho Aoyama, serta “Sherlock Holmes” karya
Conan Doyle. Sebenarnya, Detective Conan serta Sherlock Holmes itu saling
berkaitan, karena, tokoh utama dalam komik Conan ini (Kudo Shinichi),
diceritakan sangat menyukai Holmes, hingga suatu hari, ia diserang oleh kawanan
berjubah hitam (musuh bebuyutannya nanti), dan diminumi racun APTX4869,
sehingga tubuhnya mengecil seperti anak SD. Nah, setelah kejadian tersebut,
Shinichi pulang kerumahnya, sehingga bertemu dengan Ran, saat ditanyakan
namanya, ia merapat terus hingga menempel ke rak buku yang isinya ribuan (karena
ruangan tersebut hanya diisi buku) ia melihat nama Conan Doyle, serta Edogawa,
jadilah ia menamai dirinya Edogawa Conan ke Ran, kemudian numpang di rumah Ran,
mau tahu selengkapnya ? Baca aja komiknya.
Ya,
sebenarnya aku ingin seperti mereka, namun, belum ada satu kasus-pun yang
menghampiriku, he he he. Dan Liburan kali ini, impianku memecahkan kasus akan
terwujud.
2
(Pertemuan)
Liburan
kali ini, aku berkunjung ke puncak, setelah beberapa hari kerja. Ya, empat hari
lagi memang liburanku usai, tapi, sebenarnya baru saja dimulai. Sampai di
puncak, kami (aku, keluargaku, serta keluarga adik sepupuku,) menyewa villa
yang cukup murah, lalu mengemasi barang – barang kami. Saat aku tengah
mengemasi barang – barangku, aku melihat sosok tinggi, tegap, berpakaian warna
merah, seluruh tubuhnya sepertinya memakai baju anti peluru, dan dibahu kirinya
menyandang AK – 47, sedanngkan
pinggangnya ada sebuah Beretta. Aku
berkata dalam hati, ‘mungkin tentara, berjaga karena sebentar lagi tahun baru’.
Namun dari postur tubuhnya aku pikir sebaya denganku, lalu kudekati saja dia,
dan kusapa.
“Hai!”
Aku melambai padanya.
“Siapa
kamu?!” Ia mengacungkan pistolnya kearah mukaku dengan garang.
“Eits
! Aku datang dengan damai, aku pengunjung villa di belakangku ini, niat ku Cuma
liburan, dan ingin berkenalan denganmu,” Aku mengangkat kedua tangan ku, dan
mengutuk dalam hati ‘sepertinya, pembicaraanku dengan dia akan alot’. Tapi tanpa ku ketahui, dia
menurunkan senjatanya.
“Namaku
Rivaldo, Rein Rivaldo” Ia meletakkan AK –
47-nya
ke tanah.
“Aku
Aldi, Aldiansyah,” Aku mengulurkan tanganku, namun tak ada respon darinya,
sehingga kuurungkan niatku untuk berjabat tangan dengannya. “Kalau boleh tahu,
kenapa kau berpaikan anti peluru lengkap seperti ini? Dan kau juga menyandang
senjata – senjata yang bisa sekali tembak, nyawa menghilang, padahal usiamu
baru sekitar 15 tahun kan? Dari raut wajahmu, sepertinya kau baru saja
kehilangan orang yang kau sangat sayangi?”
“Siapa
kau?” Ia menatap wajahku dengan ekspresi muka tak percaya, serta mengamati
seluruh tubuhku.
“Aku?
Aku ya tadi, Aldi, jangan bilang kau lupa ingatan jangka pendek,” Aku menjawab
pertanyaannya dengan sedikit bergurau.
“Bukan namamu, tapi dirimu yang sesungguhnya, kau
sangat tepat sekali dalam analisismu mengenai aku, apakah kau seorang
detektif?”
Aku
membatin, mengenai ucapannya, ‘wow, analisis secara sedikit mengasal itu tadi
tepat semua? Tak sia – sia aku membaca komik Conan serta novel Sherlock
Holmes’. “Ya, bisa dibilang begitu,”
“Sobat, maukah kau membantuku
memecahkan sebuah kasus untukku, kumohon,” Ia berlutut di hadapanku, aku tak
tahu harus berbuat apa, jadi kujawab dengan sedikit bergurau.
“Hei bung, kau baru saja menodongkan
AK – 47 itu 5 menit yang lalu,
sekarang, kau malah memelas memecahkan kasus,”
“Maafkan aku kalau begitu, sobat,
tapi tolonglah aku,” Aku tak begitu tega untuk mengatakan bahwa aku hanyalah
komikus serta kutu buku yang doyan cerita misteri, memang aku memecahkan
beberrapa kasus, pencurian dan penganiayaan, tapi aku tak yakin bisa
menyelesaikan kasus yang satu ini. “Kumohon detektif, bantulah aku,”.
“Hhhh… baiklah, akan kucoba,
tunggulah sebentar disini,” Aku kemudian bergegas ke dalam villa, untuk
mengambil beberapa alat detektifku. Seperti sebuah tas kecil yang kuletakkan di
belakang dekat pantat kiriku, tas ninja, yang berisi 2 buah kunai, serta sekitar 20 shuriken besi dan alumunium. Aku juga
membawa senter kecil, namun sangat terang dan cukup tahan lama. Dan yang paling
penting bagi seorang detektif, yaitu, lho? Tak ada dlm peralatan detektifku?
Apakah aku meninggalkannya di Jakarta?
“Shinta !!!”
“Apa?” Seorang gadis berjalan ke
arah kamarku.
“Lihat buku catatanku ngga?” Tanyaku
sembari mengobrak – abrik tasku.
“Oh buku catatan yang ini?” Ujarnya
seraya mengibas – ngibaskannya di depan mukaku.
“Kembalikan !” Ia melemparnya ke
arahku. O, ya, belum kuceritakan siapa Shinta ini ya. Nama panjangnya, Shinta
Devi, umurnya 15 tahun, tapi dia memanggilku
kakak, karena ibunya, adalah adik ayahku. Dia cantik, cukup tinggi, berkulit
cokelat, serta kadang suka tensi. O, ya, dia sekarang punya pacar, jadi, jangan diganggu ya.
“Emang ada kasus Kak?” Tanyanya
sambil duduk di meja dan mengibaskan rambutnya.
“Iya, tapi tahu kasus apa ini,”
“Lho kok?”
“Orang kliennya belum cerita ke aku,
tapi kayaknya kasus pembunuhan,”
“Emang kliennya mana Kak?”
“Tuh, yang kaya TNI,” Shinta lalu
melongok ke jendela, dan lansung meloncat ke bawah dari lantai 2. Dia itu ikut Tae Kwon Do, jadi buat melompat dari
ketinggian sekitar 4-5m si, kecil. Ia bercakap – cakap dengan Aldo, tapi tidak
se alot
percakapanku dengannya. Akupun ikut lompat dari lantai 2, aku juga ikut silat,
sehingga ilmu tenaga dalam meringankan tubuh yang kupelajari pun mengahasilkan
buah yang baik, karena sering dalam sebuah kasus aku harus meloncat – loncat
seperti ninja.
“Hai Aldo, maaf menunggu lama,”
“Tak apa – apa Sobat,”
“O, ya, by the way kasus apa yang
kau ingin aku untuk menyelidikinya?”
“Pembunuhan orangtua kekasihku,”
Shinta menatap wajahku dengan rasa kagum, sedangkan aku membalasnya sengan
sorot mata ‘apa kubilang’.
“Jadi, berita mengenai pembunuhan
hampir satu keluarga itu
adalah keluarga kekasihmu?” Aldo dan Shinta menatapku dengan wajah tak percaya.
“Jadi kamu baca berita itu?” Tanya
Aldo dengan penasaran.
“Ya, bisa dibilang begitu, tapi
bukankah di surat kabar, itu hanyalah kasus perampokan?”
“Tidak ! Itu bukan perampokan, tapi
pembunuhan berencana!”
“Bagaimana ka bisa menyimpulkan
seperti itu?”
“Karena kondisi mayat yang aneh,
serta pada TKP, terdapat sesuatu yang janggal juga, aku punya fotonya,” Ia
kemudian mengeluarkan beberapa foto yang ia dapatkan 1 hari sebelumnya. Memang
janggal, dari mulutnya keluar darah segar, tapi tak terlalu janggal sebab,
biasanya, orang yang terkena tembakan juga kadang memuntahkan darah segar dari
mulutnya, lho tapi.
“Ya, 2 tembakan langsung, di kepala
serta tepat di jantungnya, terlalu aneh bagi sebuah kasus perampokan,” Aku
terus melihat foto – fotonya yang lain.
“Kau benar kawan, ini bukanlah
perampokan, sekedar perampokan biasa, tapi tersembunyi sesuatu disana, yang
mungkin kau tak tahu,”
“Apa itu Aldi?”
“Lebih baik sekarang kau bawa kami
ke TKP bagaimana?”
“Baiklah, ikuti aku,” Aldo mulai
berjalan terlebih dahulu.
“Shinta, mau ikut apa ngga?”
“Ikut deh, siapa tahu power-ku di butuhin,” Akhirnya kami
berjalan menuju TKP dimana segudang keanehan dan keajaiban di temukan.
Langganan:
Postingan (Atom)
