Powered By Blogger

Minggu, 28 Juli 2013

Jumat, 19 Juli 2013

3
(TKP)

            Kami sampai di sekitar jembatan ketika seorang perempuan datang ke arah kami seraya melambaikan tangannya.
            “Aldo !”
            “Rani !” Aldo dan Rani lalu berpelukan erat. Tak lama kemudian mereka melepaskan pelukannya. “O, ya Aldi, kenalkan ini Rani, pacarku, Rani, ini Aldi, dan sebelahnya Shinta, sepupu Aldi,”
            “Rani,”
            “Aldi,”
            “Shinta,”
            “O, ya Ran, Aldi ini detektif yang akan menyelidiki kasus kematian orangtua kamu,” Rani seperti terkjut. Atsmofer pun mulai berubah. Kenyataan kasus ini makin terbaca.
            “Aldo, kenapa si, kamu manggil – manggil detektif kesini, aku ngga ingin kematian orangtua ku diungkit – ungkit lagi!”
            “Tapi Rani,”
            “Ngga ada tapi – tapian!”
            “Baiklah nona Rani yang manis, jika aku tak boleh menyelidiki kasus kematian orangtuamu, bagaimana kalau aku berkunjung ke rumahmu, anggap saja, aku dan sepupuku bertamu ke rumahmu, dalam rangka liburan ku kali ini,” Rani tampak sedikit melunak.
            “Terserah kalian saja, tapi jika kalian ingin mencari sesuatu mengenai kematian orangtua ku, kalian tak akan menemukannya!”
            “Oke nona manis,” Aku menjawab ancaman Rani dengan gurauan, sedangkan Shinta dan Aldo terbingung – bingung dengan sifatku yang tak terpancing emosi walaupun Rani sudah sekasar itu.
            “Aldi, aku percayain kasus ini ke kamu, aku yakin kamu bisa memecahkannya, Rani akhir – akhir ini memang berubah, ngga kaya Rani yang dulu,”
            “O, ya ngomong – ngomong tentang Rani yang dulu, kamu ada fotonya ngga?”
            “Ada nih,” Aku mengambil foto Rani yang dulu, muungkin sangat dulu sekali, karena, terdapat beberapa perbedaan dari tubuhnya, jikalau dari sikap, mungkin aku harus mengorek informasi lebih dalam lagi.
            “Kenapa Kak?” Aku tersenyum sembari memberikan foto Rani yang dulu ke Aldo.
            “Shinta, gimana aku ngga senyum, lihat, pemandangan rumah TKP kasusnya seindah itu,” Ujarku seraya menunjuk rumah Rani, yang berada hampir di tebing 90°, dan jalan menuku rumah itupun terjal, namun kanan – kirinya terdapat bunga – bunga yang sangat indah,seperti bunga anggrek ungu dan putih, bunga dandoffil, eforbia, dan masih banyak yang lainnya, jika melihat situasinya, aku teringat lagu lawas yaitu, bukit berbunga, ‘Di bukit, indah berbunga, kau mengajak aku ke sana, tangamu, kau sentuh di pundak, membawa aku melangkah, tak lupa kau petik, bunga warna ungu, lalu kau selipkan di rambutku,’. Aku tersenyum dengan lagu nostalgia ini.
            “Iya kan Do, itu rumahnya Rani?”
            “Iya betul, kok kamu tahu si ?”
            “Karena kamu telah merani – ranikan hatiku, ha ha ha… enggak kok, aku lihat Rani tadi berjalan ke arah sana,”
            “Lho bukannya kamu tadi lagi merhatiin fotonya Rani Kak?”
            “Bodoh, seorang detektif, tidak boleh melewatkan satu hal kecilpun”
            “Kamu memang hebat Aldi,” Aldo memujiku, aku jadi tidak enak hati, batinku.
            “Sudahlah, lebih baik kita langsung ke TKP nya, Do,”
            “Ayo, mari,” Perjalanan kami menuju rumah Rani, tidak bisa dianggap mudah, jalannya yang terjal, serta kecuramnnya cukup membuat adrenalin terpacu, jika aku dan Shinta tidak terbiasa dengan olahraga yang cukup keras, mungkin, kami sudah pingsan sedari tadi.
            “Baiklah kawan – kawan, kita sudah sampai,”
            “Hhhh… capek, eh WAHHH… indah banget,” Shinta yang sampai duluan langsung mengagumi kuasa tuhan yang sungguh indah, di bumi Bandung ini. “ Kak Aldi, buruan! Ntar ngga kebagian lho!”
            “Iya, pemandangannya ngga lari ini !” Aku mengamati tempat yang membuatku hampir terperosok tadi. Kucoba memukulnya dengan tanganku. Terdengar bunyi nyaring seperti kentongan. Aku terkejut, ternyata, di dalam tebing ini tidak hanya menyimpan misteri tentang Rani, tapi juga mungkin kenapa sikap Rani berubah dan misteri pembunuhan orangtua Rani dapat terungkap secepat mungkin.

            “Hei nak, bisa lebih cepat sedikit?” Tiba – tiba halusinasi akan hantu muncul sesaat di kepalaku.

Senin, 15 Juli 2013

1
(Detective Aldi 21)

Hi, guys ! Perkenalkan, namaku Aldi, Aldiyansyah P. Usiaku 14 tahun, sedangkan kini aku bersekolah di SMK N 1 Bawang, ex-RSBI. Ya kawan, gelar sekolah itu sudah di cabut sekarang oleh pemerintah, tapi tak apalah, kami masih merasa bersekolah di RSBI.

Aku sangat suka dengan semua cerita mengenai Detektif, tapi yang paling favorit adalah “Detective Conan” karangan Gosho Aoyama, serta “Sherlock Holmes” karya Conan Doyle. Sebenarnya, Detective Conan serta Sherlock Holmes itu saling berkaitan, karena, tokoh utama dalam komik Conan ini (Kudo Shinichi), diceritakan sangat menyukai Holmes, hingga suatu hari, ia diserang oleh kawanan berjubah hitam (musuh bebuyutannya nanti), dan diminumi racun APTX4869, sehingga tubuhnya mengecil seperti anak SD. Nah, setelah kejadian tersebut, Shinichi pulang kerumahnya, sehingga bertemu dengan Ran, saat ditanyakan namanya, ia merapat terus hingga menempel ke rak buku yang isinya ribuan (karena ruangan tersebut hanya diisi buku) ia melihat nama Conan Doyle, serta Edogawa, jadilah ia menamai dirinya Edogawa Conan ke Ran, kemudian numpang di rumah Ran, mau tahu selengkapnya ? Baca aja komiknya.
Ya, sebenarnya aku ingin seperti mereka, namun, belum ada satu kasus-pun yang menghampiriku, he he he. Dan Liburan kali ini, impianku memecahkan kasus akan terwujud.



2
(Pertemuan)


Liburan kali ini, aku berkunjung ke puncak, setelah beberapa hari kerja. Ya, empat hari lagi memang liburanku usai, tapi, sebenarnya baru saja dimulai. Sampai di puncak, kami (aku, keluargaku, serta keluarga adik sepupuku,) menyewa villa yang cukup murah, lalu mengemasi barang – barang kami. Saat aku tengah mengemasi barang – barangku, aku melihat sosok tinggi, tegap, berpakaian warna merah, seluruh tubuhnya sepertinya memakai baju anti peluru, dan dibahu kirinya menyandang AK – 47, sedanngkan pinggangnya ada sebuah Beretta. Aku berkata dalam hati, ‘mungkin tentara, berjaga karena sebentar lagi tahun baru’. Namun dari postur tubuhnya aku pikir sebaya denganku, lalu kudekati saja dia, dan kusapa.

“Hai!” Aku melambai padanya.
“Siapa kamu?!” Ia mengacungkan pistolnya kearah mukaku dengan garang.
“Eits ! Aku datang dengan damai, aku pengunjung villa di belakangku ini, niat ku Cuma liburan, dan ingin berkenalan denganmu,” Aku mengangkat kedua tangan ku, dan mengutuk dalam hati ‘sepertinya, pembicaraanku dengan dia akan alot’. Tapi tanpa ku ketahui, dia menurunkan senjatanya.
“Namaku Rivaldo, Rein Rivaldo” Ia meletakkan AK – 47-nya ke tanah.
“Aku Aldi, Aldiansyah,” Aku mengulurkan tanganku, namun tak ada respon darinya, sehingga kuurungkan niatku untuk berjabat tangan dengannya. “Kalau boleh tahu, kenapa kau berpaikan anti peluru lengkap seperti ini? Dan kau juga menyandang senjata – senjata yang bisa sekali tembak, nyawa menghilang, padahal usiamu baru sekitar 15 tahun kan? Dari raut wajahmu, sepertinya kau baru saja kehilangan orang yang kau sangat sayangi?”
“Siapa kau?” Ia menatap wajahku dengan ekspresi muka tak percaya, serta mengamati seluruh tubuhku.
“Aku? Aku ya tadi, Aldi, jangan bilang kau lupa ingatan jangka pendek,” Aku menjawab pertanyaannya dengan sedikit bergurau.
“Bukan namamu, tapi dirimu yang sesungguhnya, kau sangat tepat sekali dalam analisismu mengenai aku, apakah kau seorang detektif?”
Aku membatin, mengenai ucapannya, ‘wow, analisis secara sedikit mengasal itu tadi tepat semua? Tak sia – sia aku membaca komik Conan serta novel Sherlock Holmes’. “Ya, bisa dibilang begitu,”
            “Sobat, maukah kau membantuku memecahkan sebuah kasus untukku, kumohon,” Ia berlutut di hadapanku, aku tak tahu harus berbuat apa, jadi kujawab dengan sedikit bergurau.
            “Hei bung, kau baru saja menodongkan AK – 47 itu 5 menit yang lalu, sekarang, kau malah memelas memecahkan kasus,”
            “Maafkan aku kalau begitu, sobat, tapi tolonglah aku,” Aku tak begitu tega untuk mengatakan bahwa aku hanyalah komikus serta kutu buku yang doyan cerita misteri, memang aku memecahkan beberrapa kasus, pencurian dan penganiayaan, tapi aku tak yakin bisa menyelesaikan kasus yang satu ini. “Kumohon detektif, bantulah aku,”.
            “Hhhh… baiklah, akan kucoba, tunggulah sebentar disini,” Aku kemudian bergegas ke dalam villa, untuk mengambil beberapa alat detektifku. Seperti sebuah tas kecil yang kuletakkan di belakang dekat pantat kiriku, tas ninja, yang berisi 2 buah kunai, serta sekitar 20 shuriken besi dan alumunium. Aku juga membawa senter kecil, namun sangat terang dan cukup tahan lama. Dan yang paling penting bagi seorang detektif, yaitu, lho? Tak ada dlm peralatan detektifku? Apakah aku meninggalkannya di Jakarta?
            “Shinta !!!”
            “Apa?” Seorang gadis berjalan ke arah kamarku.
            “Lihat buku catatanku ngga?” Tanyaku sembari mengobrak – abrik tasku.
            “Oh buku catatan yang ini?” Ujarnya seraya mengibas – ngibaskannya di depan mukaku.
            “Kembalikan !” Ia melemparnya ke arahku. O, ya, belum kuceritakan siapa Shinta ini ya. Nama panjangnya, Shinta Devi, umurnya 15 tahun, tapi dia memanggilku kakak, karena ibunya, adalah adik ayahku. Dia cantik, cukup tinggi, berkulit cokelat, serta kadang suka tensi. O, ya, dia sekarang punya pacar, jadi, jangan diganggu ya.
            “Emang ada kasus Kak?” Tanyanya sambil duduk di meja dan mengibaskan rambutnya.
            “Iya, tapi tahu kasus apa ini,”
            “Lho kok?”
            “Orang kliennya belum cerita ke aku, tapi kayaknya kasus pembunuhan,”
            “Emang kliennya mana Kak?”
            “Tuh, yang kaya TNI,” Shinta lalu melongok ke jendela, dan lansung meloncat ke bawah dari lantai 2. Dia itu ikut Tae Kwon Do, jadi buat melompat dari ketinggian sekitar 4-5m si, kecil. Ia bercakap – cakap dengan Aldo, tapi tidak se alot percakapanku dengannya. Akupun ikut lompat dari lantai 2, aku juga ikut silat, sehingga ilmu tenaga dalam meringankan tubuh yang kupelajari pun mengahasilkan buah yang baik, karena sering dalam sebuah kasus aku harus meloncat – loncat seperti ninja.
            “Hai Aldo, maaf menunggu lama,”
            “Tak apa – apa Sobat,”
            “O, ya,  by the way kasus apa yang kau ingin aku untuk menyelidikinya?”
            “Pembunuhan orangtua kekasihku,” Shinta menatap wajahku dengan rasa kagum, sedangkan aku membalasnya sengan sorot mata ‘apa kubilang’.
            “Jadi, berita mengenai pembunuhan hampir satu keluarga itu adalah keluarga kekasihmu?” Aldo dan Shinta menatapku dengan wajah tak percaya.
            “Jadi kamu baca berita itu?” Tanya Aldo dengan penasaran.
            “Ya, bisa dibilang begitu, tapi bukankah di surat kabar, itu hanyalah kasus perampokan?”
            “Tidak ! Itu bukan perampokan, tapi pembunuhan berencana!”
            “Bagaimana ka bisa menyimpulkan seperti itu?”
            “Karena kondisi mayat yang aneh, serta pada TKP, terdapat sesuatu yang janggal juga, aku punya fotonya,” Ia kemudian mengeluarkan beberapa foto yang ia dapatkan 1 hari sebelumnya. Memang janggal, dari mulutnya keluar darah segar, tapi tak terlalu janggal sebab, biasanya, orang yang terkena tembakan juga kadang memuntahkan darah segar dari mulutnya, lho tapi.
            “Ya, 2 tembakan langsung, di kepala serta tepat di jantungnya, terlalu aneh bagi sebuah kasus perampokan,” Aku terus melihat foto – fotonya yang lain.
            “Kau benar kawan, ini bukanlah perampokan, sekedar perampokan biasa, tapi tersembunyi sesuatu disana, yang mungkin kau tak tahu,”
            “Apa itu Aldi?”
            “Lebih baik sekarang kau bawa kami ke TKP bagaimana?”
            “Baiklah, ikuti aku,” Aldo mulai berjalan terlebih dahulu.
            “Shinta, mau ikut apa ngga?”
            “Ikut deh, siapa tahu power-ku di butuhin,” Akhirnya kami berjalan menuju TKP dimana segudang keanehan dan keajaiban di temukan.



Kali ini, saya kan memposting cerita saya mengenai detektif, buat semuanya, kalian bisa copas, share dll, tapi dengan catatan sertakan tanda tangan saya dibawah ini,

=>>D.Aldi21<<=


sebenarnya, cerita ini merupakan bagian dari novel, tapi saya akan posting sebagai cerbung,