Hi Guys! 1 lagi untuk malam ini! Kali ini saya akan memosting tentang tutorial pembuatan aplikasi input data sederhana dengan netbeans dan my sql. Aplikasi ini, saya buat menggunakan netbeans 7.0 dan xampp 1.8 bagi kalian para maniak komputer, atau yang bersekolah di jurusan komputer saya rasa sudah tidak asing lagi dengan aplikasi-aplikasi diatas kan. Langsung saja untuk link download bisa dilihat disini.
pdf
doc
Detective Aldi21
Selasa, 28 Oktober 2014
Hi Guys! Lama tak jumpa! Kali ini saya akan memosting tentang tutorial pembuatan aplikasi pengonversi satuan. Aplikasi ini, saya buat menggunakan netbeans 7.0 bagi kalian para maniak komputer, atau yang bersekolah di jurusan komputer saya rasa sudah tidak asing lagi dengan salah satu software pembuat aplikasi ini. Langsung saja untuk link download bisa dilihat disini
Pdf : Aplikasi pengonversi satuan
Doc : Aplikasi pengonversi satuan
Pdf : Aplikasi pengonversi satuan
Doc : Aplikasi pengonversi satuan
Rabu, 16 April 2014
PANDA BUAT FINA
Banjarnegara 15 Februari 2013,
Banjar panas. Itu yang hampir diucapkan semua anak
di SMK Negeri 1 Bawang, tidak terkecuali aku. Hari ini, satu hari setelah hari
valentine. Teman – temanku sedang sibuk membicarakan coklat yang diberikan pacar
mereka kemarin. Aku si, ngga ikut – ikutan. Males.
“Fina, fin! Bilangin dah sini,” Tata manggil aku.
Aku sebenernya males, tapi mau gimana lagi, dia itu salah satu dari 3
sahabatku. Jadi aku putuskan mendekat.
“Kenapa ya Ta?” Aku langsung duduk di sebelah Vani.
Dia juga salah satu sahabatku, dia yang paling W.O.W diantara ketiga sahabatku.
“Mana coklat yang dari Arif ya Fin?” Vani langsung
meledekku.
“Hii, lho kok kaya gitu ya Van, orang aku aja belum
makan wee” Aku menjuluran lidahku kepada mereka.
“Piiih, pelit banget si, sama temen kok gitu si” Ana
menyahut. Kalo Ana ini, tipikal orang yang kadang nyebelin gimana gitu, tapi
dia royal kalo sama temen.
“Ehehe ngga kaya gitu kok, Aku sama temen li ngga
tegaan,” Aku lalu mengambil coklat pemberian Arif, yang dikasih waktu istirahat
pertama. Alfin. Entah mengapa malah nama itu yang terlintas dikepalaku.
Sahabatku yang sudah memberi sinyal bahwa dia suka sama aku. Bukannya GR si,
tapi emang kenyataannya kaya gitu, dan udah banyak yang bilang juga. Anaknya enakan,
humoris, dewasa walaupun dia satu tingkat dibawahku, terus pinter main musik
lagi, dari gitar sampai drum. Tipe cowok idola banget. Seebenernya aku
beruntung banget dia itu suka sama aku, tapi akunya yang aneh, malah milih
Arif, anak dance yang orang bilang itu playboy. Emang waktu awal pacaran dia
masih suka PDKT ke orang lain tapi, sekarang dia mulai belajar setia. Katanya.
Tapi . . . Lah, pusing mikirin Alfin sama Arif. Ngga bakalan selesai. Aku
langsung menuju teman – temanku dan makan coklat yang dikasih Arif. Coklat yang
seharusnya pribadi buat aku, malah aku makan bareng sohibku, dan aku makannya
juga ngga seberapa banyak. Acara makan coklat rame – rame itu ditutup saat guru
pelajaran terakhir masuk. Matematika!
***
Aku pulang sekolah bareng Tata. Aku ngajak Tata
lewat lobi, ngga tau kenapa instingku bilang lewat lobi aja. Dan nampaknya
instingku tepat, disitu ada Alfin dengan kebiasaannya yaitu jadi Avatar, alias
tukang download. Lumayan banyak anak juga disitu, ada sekitar 5 orang lah. Saat
Alfin liat aku sama Tata, dia langsung manggil Tata.
“Eh mba, gimana jadi ngga? Katanya laptopnya mau di
install ulang,” Aku agak sedikit kecewa sih, tapi emang kita lagi ngga ada masalah
apa – apa, dia kan lagi ada keperluan sama Tata.
“Eh iya, kamu ya, senin aja gimana? Tapi aku
orangnya lupaan we, bilang Fina aja suruh ngingetin aku,” Aku cuek saja dengan
mereka, malah aku memanggil Tata untuk agak sedikit cepat. Aku si agak denger
pembicaraan mereka tentang aku.
“Lah kenapa kamu ngga bilang sendiri?”
“Eh anu, kita anu, lagi”
“Oh lagi ada masalah ya, iya gampang, FIN!!! INI
ALFIN MAU NGOMONG!!!” Aku kaget mendengar teriakan Tata, padahal aku sama dia
jaraknya juga ngga terlalu jauh. Aku langsung menghampiri Alfin dan Tata.
Walhasil dikarenakan teriakan Tata jadi semua orang yang ada di lobi merhatiin
aku sama Alfin deh.
“Kamu tuh ya Ta, apaan si, ngga usah kenceng –
kenceng kali,” Aku menyubit pinggang Tata.
“Wadaaauww! Ehehe ngga papa lah, kan takut kamunya
ngga ndeger weee, oh iya aku parkir motor dulu, entar kalo udah aku panggil
oke!” Dengan acuhnya Tata langsung pergi begitu saja. Aku tidak tahu harus
bagaimana lagi. Apalagi dengan semua mata memandang begitu. Tanpa ba, tanpa bi,
tanpa bu, Alfin langsung saja menyeret aku keluar dari lobang neraka ini.
Setelah cukup lama diluar, aku baru sadar, ternyata Alfin belum melepaskan
pegangan tanganya.
“Eh Al,”
“Iya kenapa Fin?”
“Ini tangan aku dilepas dong,”
“Oh, iya,” Dengan rasa gugup yang melanda kami
berdua Alfin perlahan melepaskan pegangan tangannya, tapi entah kenapa ada rasa
yang aneh tertinggal saat Alfin melepas tangannya.
“Jadi, kamu mau ngomong apa sampe kita kesini?”
Ujarku setelah rasa canggung itu reda.
“Loh? Kita emang dimana?” Alfin malah melihat
sekeliling. “Kok kita disini Fin?”
“Ye dasar, orang yang tadi ngajakin keluar ya
siapa,” Ujarku sembari memukuk kepala Alfin pelan.
“Oh iya, aku baru inget, lagian tadi sih, mba Tata
kayak gitu, dikirain aku mau ngomong ‘apa’ sama kamu kan, yaudah aku langsung
tarik kamu, sebenernya aku cuman mau ngomong, kalo besok mba tata suruh ingetin
buat bawa laptopnya, gitu” Alfin
berbicara dengan gerakannya yang khas, yaitu pasti ikut mempraktekan apa yang
ia bicarakan, kesannya jadi seperti anak kecil sekali pas lagi kayak gitu.
“Lha kenapa Tata ga ngomong langsung ke aku?”
“Aku juga ga tau Fin, O iya Fin,” Alfin berubah
lagi, aku ga tau dia punya kepribadian ganda atau gimana, tapi dia itu aneh,
bisa dalam sekejap seperti anak kecil, kemudian langsung berubah sangat dewasa
seperti saat ini.
“Iya,”
“Mmm, anu fin, aku minta maaf ya,” Jari tangan
kananya seperti tengah memetik bass, berarti dia dalam keadaan gugup. Lho? Kok
aku jadi aneh? Kenapa aku malah bisa memerhatikan kebiasaan kecil Alfin kayak
gini? Arif aja aku ngga tau.
“Minta maaf masalah apa Al? Kamu ga salah kok,
akunya aja yang egois,”
“Engga Fin, ini semua salah aku, saat kamu ada
masalah sama Arif malah aku berusaha mojokin kamu, bukannya menyuport kamu,”
Alfin memegang tanganku lagi, jujur kali ini aku agak gugup entah kenapa. “Dan
terus aku cuman mau ngingetin, jangan buat dia jadi pelarian kamu dari Ilham
Fin, aku tau Kunyuk itu . . .”
“Cukup Al, kamu ga salah, aku yang salah, aku yang
ga ndengerin omongin kamu dari dulu, Aku minta ma . . .”
“Ngga Fin, aku yang salah, kamu ngga seharusnya
minta maaf, aku . . .”
“Al, kalo kayak gini ga bakalan selesai, kamu maafin
aku pa ngga?” Ada jeda cukup lama kali ini. Hingga aku bisa memerhatikan
seluruh tubuhnya, rambutnya yang tertiup angin, serta pandangannya yang selalu
tajam menusuk. Tapi mata itu kini tidak tengah menatapku, ia menatap kebawah.
“Al, maafin aku ya,” Ujarku memecah keheningan ini. Ia menatapku dalam.
“Ia Fin, aku maafin,” Perlahan ia melepaskan
tangannya.
“Ayo Al, kita pulang,”
“Kamu dulua aja, aku mau disini dulu,” Akhirnya aku
meninggalkan Alfin disana sendiri, sebelum aku berbelok, aku menatap
punggungnya yang tegak. Ia menengadah, aku ngga tau apa yang dia pikirkan.
“Woiiii! Fina! Ayo Pulang!”
“Iya iya!” Aku setengah berlari menghampiri Tata
yang sudah siap di motornya, dan mengantarku pulang.
***
Aku tiba di
kos denga rasa lelah yang teramat sangat. Jarum jam menunjukan pukul jam 15.34,
tapi entah kenapa, rasanya malas banget untuk mandi. Aku menjatuhkan diriku di
kasur yang mungil ini. Kutatap seluruh kamarku. Beberapa saat, aku menatap
lukisan panda oleh – oleh Alfin dari Bali. Kuambil lukisan itu, kutatap
perlahan. Serasa mendengar suara Alfin saat ia dengan seriusnya mewanti –
wantiku untuk menjaga lukisan ini baik – baik. Saat ia bilang agar lukisan ini
agar disampuli dengan plastik. Ingat juga saat aku ngeyel dan bilang ribet
segala macem. Teringat akan semua itu membuatku tersenyum – senyum sendiri.
Kudekap lukisan itu hingga aku terbawa tidur. Dan melepas segala penatku.
***
Aku bangun sudah jam 7. Kulirik lukisan yang masih
didalam dekapanku. Selamat. Ternyata lukisan ini berhasil lolos dari ‘air
bahku’. Aku langsung mandi dan bergegas keluar mencari makan, tapi saat aku mau
keluar. Aku melirik ada bungkus nasi, coklat, serta es teh manis yang esnya
hampir mencair semua. Aku tidak tahu itu dari siapa. Saat kubuka pintu kamar,
lewat Lia, anak Ibu kos sini. Langsung saja Ia kupanggil.
“Eh Lia, bilangin sini” Lia tampak bingung, tapi
melihat aku didepan pintu ia langsung menghampiriku.
“Iya kak kenapa?” Lia itu anak kelas 6 SD, ia masih
sangat polos sekali.
“Tadi kamu liat ada orang yang dateng ke kamar
kakak?”
“Ia tadi Lia sendiri yang anter, orangnya bawa
kantong, isinya coklat sama apa Lia gatau, terus Lia dikasih satu, Lia tanyain
‘kakak siapa?’ dia cuman jawab, ‘temennya kak Fina’ gitu, katanya mau nganterin
titipan, jadi Lia anter ke kamar kakak,” Aku berusaha mencerna semua omongan Lia
tadi. Siapa yang mau nganterin makanan ke aku? Perasaan juga aku ngga pernah
kasih tau siapa – siapa tempat kosku. Tata aja ngga tahu.
“Terus, gimana lagi?”
“Katanya, Lia suruh nunggu disini sebentar, yaudah
lia tunggu, kalo gak salah, ga sampe 5 menit Kakak itu udah keluar lagi deh,”
ujar Lia sembari memainkan rambutnya yang panjang.
“Kakak itu ngga ngomong apa – apa lagi?”
“Mmmm. . . apa ya?” Lia mengerutkan dahinya serta
memejamkan matanya. Aku sampai penasaran sekali apa yang mau ia bilang. Kalo
dia adikku mungkin sudah kucubit pipinya. “O, iya, dia bilang suruh jangan
ganggu kakak, tapi kalo nanti jam 7 lebih belum keluar, aku disuruh masuk,
mastiin kondisi kakak,” Aku makin bingung dengan semua ini. Siapa kira – kira
ya? Apa mungkin Arif?
“Oh gitu, yaudah deh, makasih Lia,”
“Sama – sama kak,” Lia langsung berlari kecil menuju
kamarnya. Sedangkan aku masih bingung dan terpaku di depan pintu kamarku.
Akhirnya aku masuk setelah mendengar hp-ku berbunyi. Langsung kuambil dan
kucek. Ternyata dari Arif. ‘Malem darl,’.
Kubalas sekenanya. Setelah membalas sms Arif, aku terkejut melihat ada 2
panggilan tidak terjawab, serta ada sms lain. Kucek, ternyata Alfin yang
menerlefonku. Kulihat keterangan jamnya. Yang pertama pukul 16.30, serta sms
pada jam yang sama, isinya. ‘Bangun bun,
jangan tidur mulu’. Aku merasa aneh dengan sms Alfin, apa dia yang ngasih
makanan ini ke aku? Tapi kalo dilihat jamnya, esnya pasti udah cair semua. Yang
kedua jam 06.45 , tapi kali ini tidak ada sms. Saat aku tengah berfikir, tiba –
tiba hpku berbunyi lagi. Kali ini sms dari Alfin. Isinya ‘Udah bangun belum? Udah jam 7 lebih ini, kalo udah, mandi terus makan’.
Aku langsung membalas sms itu. ‘Kamu tadi
dateng kesini apa al?’. Lama kutunggu sms Alfin, tapi belum juga
membalasnya. Akhirnya aku putuskan aku makan makanan itu. Kuminum es teh
manisnya terlebih dahulu, dan saat aku ingin membuka makananku, hpku berbunyi
lagi. Langsung saja kubuka. Alfin membalas smsku. ‘Iya ehehehe, maaf tadi masuk kamar kamu ga ijin, tapi dibolehin tuh
sama si Lia :P udah makan? Kalo belum dimakan dulu itu, aku lagi latihan nih
:)’. Udah kuduga ternyata Alfin yang ngasih makanan ini. Aku belum sempat
membalas sms Alfin, karena perutku sudah sangat keroncongan. Aku dibikin lebih
kaget lagi oleh Alfin ternyata. Makanan ini lauknya adalah favoritku. Pepes
mujahir dan sayur labu siam. Aku langsung makan dengan sangat lahap, setelah
selesai, aku memberi sms ke Alfin, yang isinya ‘aaaaakkkk alfinnn makasih banget makananya :3 enak banget aku sampe
pengen nambah lagi ehehehe;;) makasih banget ya al,’. Tak berapa lama Alfin
membalas pesanku. ‘ehehe sama –sama bun,
aku sih kira2 aja, soklatnya kalo gmw jgn dibuang, itu Lia li anu suka banget
kayaknya. :D’. Langsung kubalas sms itu,
‘Ish, enak aja, aku li mw si :p tapi makasih banget ya al :) Udah selesai
latihan?’. Tidak menunggu lama Alfin langsung membalas lagi. ‘Ya tak kirain gmw :p belum ini, masih
berkutat Ku Katakan Dengan Indah, buat kamu >< g usah ditungguin belajar
aja sana :D’. Aku tersenyum sendiri melihat sms itu. Kubalas sms Alfin itu,
‘Eleh, jadi serius mw bawain lagu itu :3
ish siapa yang mau nungguin kamu -,,- ini juga mau belajar, pulangnya jangan
kemaleman ya,’. Alfin tak membalas lagi, kemudian aku belajar untuk
menyiapkan untuk ujian besok.
***
Banjarnegara, 21 Februari 2013
Rumah
Kos . . .
Hari ini aku bangun dengan malas-malasan, aku baru
bangun jam 6 pagi. Tapi langsung ada sms masuk dari Alfin. ‘Bun kamu udah berangkat belum?’. Aku langsung membalasnya ‘Belum we, aku aja baru bangun :3 kenapa
al?’. Setelah membalas sms itu, aku langsung mandi dan berpakaian rapi,
tinggal menunggu Tata menjemputku, sembari menunggu aku sms-an dengan Arif dan
Alfin, serta belajar sekali lagi untuk materi ujian hari ini. ‘Mba Fina kamu udah berangkat? -Khakim-‘. Aku
agak kaget, kenapa kok Khakim sms aku? Ada perlu apa? Langsung saja kubalas sms
itu ‘Belum kenapa ye kim?’. Tidak
selang 5 menit ia langsung membalas ‘Halah,
aku anu ada penting sama kamu mba, bisa berangakat sekarang mba?’. Aku
makin bingung lagi, kenapa tiba – tiba banget Khakim perlu sama aku? ‘Anu perlu apa ye kim? Aku ga bisa we,
kenapa si? Aku anu masuk siang,’. Kutunggu beberapa lama, Khakim tidak
membalas lagi, entah kenapa.
Sekolah
. . .
“Gimana Kim?”
“Ngga bisa, anu mba Fina masuknya sekarang siang,
we, li bener aku aturan dikasih kos-kosannya aja,”
“Masalahnya itu, anu aku lupa”
“Ish, bisanya lupa, udah berapa anak tadi coba?”
“16 sama ini,” 2 anak ini memerhatikan terus ruang
kelas XII BB. Dikelas itu terdapat sesuatu yang aneh di dekat meja guru, setiap
anak yang baru masuk pasti langsung memerhatikannya.
“Eh pada keluar tuh,” Benar omongan anak yang
seperti keturunan orang arab, anak – anak dikelas XII BB mulai berhamburan
keluar menuju mushola. “Mau gimana?” Anak yang satunya lagi matanya setajam
elang. Terus memerhatikan ruang kelas itu hingga akhirnya kosong.
“Ayo ikut aku,” Si mata elang memimpin jalan,
sedangkan si arab mengikutinya dari belakang. Mereka bergegas menuju ruang
kelas XII BB, ketika sudah sampai di depan kelas, mereka berhenti.
“Sana aman?” Ujar si arab.
“Coast is
clear. Ayo kita masuk,” Ujar si elang. Setelah si elang berkata seperti
itu, si arab langsung masuk ke kelas. Sedangkan si elang memerhatikan
sekeliling sebelum akhirnya menyusul.
“Ini mau gimana?” Si Elang memegang benda itu.
“Ye mau gimana lagi, aku pikir tempatnya dipindahin
dulu, coba aja ditaruh dipojokan situ,”
“Oh iya ding, yaudah,” Si elang memindahkan benda
tersebut ke sudut ruangan yang tidak bisa terlihat dari luar.
“Nah sekarang beres, kopsis yuk,”
“Ayok deh, aku haus nih,”
“Iya, tapi lewat mushola” Ujar Si elang seraya
berjalan pergi.
“Iya deh iya,” Kedua anak itu akhirnya berjalan
menuju kopsis sesuai dengan rute yang ditentukan, yaitu melalui depan mushola.
Di depan mushola mereka dicegat oleh seorang anak perempuan.
“Al, itu yang dikelas dari kamu ya?” Yang ditanya
malah bingung.
“Eh iya mba,” Ujarnya seraya memberi kode kepada si
Arab.
“Lha terus mau gimana? Orang Fina juga belum
berangkat,”
“Aku juga bingung weh mba, oh ya aku punya ide!
Nanti sebelum jum’atan li kalian udah pada selesai UP, nah kamu sms aku, terus
ajak Fina ke kelas, gimana?” Ujar si elang dengan semangat sekali.
“He, aku mau bantu juga kali,”
“Iya kali ga cuman kamu Van,” Dua anak yang lain
ikut turut berbincang dengan mereka. Mereka terus berdebat hingga akhirnya
terjadi suatu kesepakatan yang entah itu apa.
Sekolah,
pukul 10.45 . . .
“Kenapa sih Van,”
“Udah deh ikut aja ayo,” Aku ngga tau kenapa hari
ini Vani, sama Ana ribut mulu. Dari mulai nanyain kenapa bernagkat siang, sampai
saat ini mereka narik – narik aku buat ke kelas. Akhirnya dengan sangat
terpaksa aku menuju ke kelas, padahal saat itu aku sudah sangat lapar. Tak
berapa kami sampai di kelas.
“Ehhh Vani! Apa – apaan sih?” Aku terkejut sekali
ketika Vani dan Ana mendorongku ke kelas, dan lebih terkejut lagi disitu ada
Alfin!
“Alfin? Kamu . . . kamu kok disini?” Alfin hanya
terdiam, kemudian Ia maju dan membawa kado seukuran setengah badanku sendiri.
“Aku cuman mau nepatin janji kok Bun,” Aku tak
percaya dengan apa yang aku lihat, kotak itu jelas isinya panda, tapi besar
sekali. Aku bener – bener ngga nyangka, Alfin bener – bener nepatin janjinya.
“Ngomong dong Bun,” ucapan Alfin membuatku terkejut.
“Aku ngga bisa ngomong Al,”
“Tapi ngga usah sampe nangis kan?” Ujarnya seraya
mengusap air mataku. “Kalo kamu ngga suka, aku bisa kembaliin lagi kok,”
“Aku ngga papa Al, aku nangis ini karena seneng,
makasih banget Al,” Aku lalu mengambil panda yang ada di tangan Alfin. Suasana
kembali canggung. Aku masih belum bisa berkata apa-apa sedangkan Alfin? Aku
ngga tahu apa yang dia pikirkan. Tiba – tiba Alfin mengambil kotaknya dan
meletakannya di tanah. Aku hanya terdiam. Lalu dia menggegam tanganku.
“Fin, sebenernya aku . . .” Aku tidak tahu apa yang
ingin diucapkan Alfin berikutnya karena tiba – toba Nova muncul dan memotong
pembicaraan kami. Saat Nova berbicara aku hanya sekali mengiyakan dan masih
menatap Alfin, sedangkan mata Alfin mengatakan Nova suruh keluar, tapi kubalas
dengan nakal, tidak.
“Alfin, sebenernya kamu suka sama mba Fina kan?”
“Hah? Apa? Engga kok,” Aku terkejut dengan kecepatan
respon yang ia berikan atas pertanyaan Nova. Tapi aku tahu yang ia katakan
bohong. Sebab setelah mengatakan seperti itu, matanya menatap tajam kepadaku,
layaknya sebuah mata elang. Mata itu berkata, maaf, aku sebenernya emang sayang
kamu. Tapi aku tidak berani membalasnya, sehingga aku mengalihkan pandanganku.
Maaf Al, saat ini kita ngga mungkin jadi satu. Maaf banget. Hanya itu yang bisa
kukatakan dalam hati.
***
Banjarnegara,
Wanadadi Tapen, 21 Maret 2018 . . .
“Saya terima nikahnya Fina Purwani binti Budi
ardiyono dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai.”
“Bagaimana saksi, sah?”
“Sah,”
“Allhamdullilah, . . .” Hari ini adalah hari
pernikahanku, tentu saja mempelai prianya Alfin. Kami akhrinya dapat bersatu
pada akhrinya, memang benar jodoh itu tidak lari kemana. Aku masih inget semua
itu, terutama tentang boneka panda yang ia berikan padaku. Semua barang yang ia
berikan padaku masih tertata rapi dikamarku, yang sekarang menjadi kamar
pengantinku. Terimakasih Tuhan kau telah menjodohkanku dengan Alfin walaupun
harus melalui proses sulit, terimakasih Alfin, kamu sudah mau sabar selama ini.
Aku akan terus menyayangimu, hingga nanti.
“Ayo calon mempelainya difoto,”
“Ayo Bun,” Alfin mengulurkannya tangannya padaku.
“Kamu boleh manggil aku panda kok, alias Papah Panda,” ujarnya sembari
memberikan senyum tulus penuh kehangatan.
“Iya, tapi aku lebih suka manggilnya Ayah,” ujarku
sembari memberikan senyum terindah yang bisa kulukiskan saat ini.
“Ayo sudah siap, 1, 2, 3,” Blitz menyala.
The
end.
21 Maret 2013
Ini si sumber inspirasi terimakasih Bu Pan. :)
Rabu, 18 September 2013
::Biarkan Anakku Tertawa, Sebelum Tahu Ibunya Sudah Tiada::
Suatu petang ketika orang2 sedang sibuk berebut waktu untuk segera pulang kerumah masing2 setelah melakukan rutinitas pekerjaannya, di sebuah halte busway terlihat seorang bapak dengan 3 anaknya yang masih kecil2.
Mereka sedang menunggu datangnya busway yang sebentar lagi akan membawa mereka pulang.
Ketiga anak itu berusia sekitar 8, 5 dan 3 tahun.
Anak terkecil bagaikan seorang putri, ia begitu cantik dalam dekapan sang bapak. Sedangkan kedua anak lainya yang putra sedang asyik bermain2 kesana kemari. Itulah ciri anak seantero dunia.
Tibalah saatnya busway ditunggu datang.
para penumpang pun seperti robot yang diperintahkan sama bergegas menuju pintu masuk busway, termasuk sang bapak dan ketiga anaknya.
Kemudian keluarga itu dapat duduk di kursi busway yang disusun seperti kereta api listril(KRL). Lalu kedua putranya beranjak dari kursinya dan bermain petak umpet di sela sela tubuh orang dewasa yang sebagian besar mengisi ruang busway itu. mereka sambil berteriak girang.
Terlihat beberapa penumpang yang wajahnya menjadi begitu muram.
Mereka merasa tidak nyaman dengan kegaduhan itu.
Hingga akhirnya ada seorang penumpang pria yang ketus menyatakan protesnya ke sang bapak,
"Pak,tolong anaknya di atur ya, disini kan penumpang juga ingin tenang, sudah capek kerja, eh pulang kok masih aja ada yang ganggu!!".
Lalu sang bapak sambil menggendong putrinya pun menjawabnya dengan senyum,
"Maaf ya mas, ibu mereka baru saja meninggal sore ini di rumah sakit,dan saya belum mengatakan hal ini ke mereka. Nanti begitu sampai rumah saya akan mengatakannya, biarlah mereka merasakan kegembiraan yang menjadi hak mereka, karna saya merasa mereka akan banyak kehilangan kegembiraan setelah tahu bahwa ibu yang biasa mengasuh mereka dan menyayangi mereka setiap saat sudah tidak bersama mereka lagi selamanya, mas tidak keberatan kan, kalau mereka bermain sebentar saja di bus ini?".
Mendengar apa yg dibicarakan sang bapak, sebagian penumpang yang mendengarnya lalu terdiam dan merenung, termasuk sang pria yang baru saja memperotes sang bapak dengan ketus, tiba tiba mereka teringat akan kasih sayang dan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka perbuat kepada ibunya.
Diam-diam diantara mereka ada yang menggambil handphone di saku celananya, lalu jari jempolnya membuat bari kalimat, "Ibu apa kabar? besok pagi saya mau pulang menjenguk ibu. Maafkan segala salah saya,ibu"
Kemudian dia mengirimkan sms itu ke nomor ibunya, dan berharap ia masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan ibunya besok...
=>>Raal_21<<=
Suatu petang ketika orang2 sedang sibuk berebut waktu untuk segera pulang kerumah masing2 setelah melakukan rutinitas pekerjaannya, di sebuah halte busway terlihat seorang bapak dengan 3 anaknya yang masih kecil2.
Mereka sedang menunggu datangnya busway yang sebentar lagi akan membawa mereka pulang.
Ketiga anak itu berusia sekitar 8, 5 dan 3 tahun.
Anak terkecil bagaikan seorang putri, ia begitu cantik dalam dekapan sang bapak. Sedangkan kedua anak lainya yang putra sedang asyik bermain2 kesana kemari. Itulah ciri anak seantero dunia.
Tibalah saatnya busway ditunggu datang.
para penumpang pun seperti robot yang diperintahkan sama bergegas menuju pintu masuk busway, termasuk sang bapak dan ketiga anaknya.
Kemudian keluarga itu dapat duduk di kursi busway yang disusun seperti kereta api listril(KRL). Lalu kedua putranya beranjak dari kursinya dan bermain petak umpet di sela sela tubuh orang dewasa yang sebagian besar mengisi ruang busway itu. mereka sambil berteriak girang.
Terlihat beberapa penumpang yang wajahnya menjadi begitu muram.
Mereka merasa tidak nyaman dengan kegaduhan itu.
Hingga akhirnya ada seorang penumpang pria yang ketus menyatakan protesnya ke sang bapak,
"Pak,tolong anaknya di atur ya, disini kan penumpang juga ingin tenang, sudah capek kerja, eh pulang kok masih aja ada yang ganggu!!".
Lalu sang bapak sambil menggendong putrinya pun menjawabnya dengan senyum,
"Maaf ya mas, ibu mereka baru saja meninggal sore ini di rumah sakit,dan saya belum mengatakan hal ini ke mereka. Nanti begitu sampai rumah saya akan mengatakannya, biarlah mereka merasakan kegembiraan yang menjadi hak mereka, karna saya merasa mereka akan banyak kehilangan kegembiraan setelah tahu bahwa ibu yang biasa mengasuh mereka dan menyayangi mereka setiap saat sudah tidak bersama mereka lagi selamanya, mas tidak keberatan kan, kalau mereka bermain sebentar saja di bus ini?".
Mendengar apa yg dibicarakan sang bapak, sebagian penumpang yang mendengarnya lalu terdiam dan merenung, termasuk sang pria yang baru saja memperotes sang bapak dengan ketus, tiba tiba mereka teringat akan kasih sayang dan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka perbuat kepada ibunya.
Diam-diam diantara mereka ada yang menggambil handphone di saku celananya, lalu jari jempolnya membuat bari kalimat, "Ibu apa kabar? besok pagi saya mau pulang menjenguk ibu. Maafkan segala salah saya,ibu"
Kemudian dia mengirimkan sms itu ke nomor ibunya, dan berharap ia masih diberi kesempatan untuk berjumpa dengan ibunya besok...
=>>Raal_21<<=
Jumat, 13 September 2013
Bagi yang doyan Visual Basic ataupun mau belajar, ini saya kasih satu script untuk membuat Struk Belanja I Hope U Guys Like It!
Dim Bayar As Single
Private Sub cmdBersih_Click()
txtjumlah.Text = ""
txtharga.Text = ""
lblHasil = ""
txtjumlah.SetFocus
End Sub
Private Sub cmdHitung_Click()
Bayar = Val(txtjumlah.Text) * Val(txtharga.Text)
lblHasil = Format (bayar, "Rp ###,###,###") & ",-"
Cmdbersih.Enabled = True
Cmdkeluar.Enabled = True
End Sub
Private Sub cmdkeluar_click()
psn = MsgBox ("Anda yakin akan Keluar", 32 + 4, "Informasi")
If psn = vbYes Then
MsgBox "Terima kasih", 32, "Informasi"
End
Else
If psn = vbNo Then
MsgBox "Lho... Kok Ga jadi", 32, "Informasi"
End If
End If
End Sub
Private Sub Form_Load()
Cmdhitung.Enabled = false
Cmdbersih.Enabled = false
Cmdkeluar.Enabled = false
End Sub
Private Sub txtharga_Change()
bayar = Val(txtjumlah.Text) * Val(txtharga.Text)
On error Resume next
lblhasil = Format (" Rp ") & ",-"
Exit Sub
End Sub
Private Sub txtharga_KeyPress (KeyAscii as integer)
If KeyAscii = 13 then
Cmdhitung.Enabled = True
CmdHitung.SetFocus
Else
If Not (KeyAscii >= Asc("0") And keyAscii <= Asc("9") Or KeyAscii = vbKeyBack) Then
MsgBox "Hanya Boleh Memasukan angka!", 16, "Informasi"
KeyAscii = 0
End If
End If
End Sub
=>>Raal_21<<=
Dim Bayar As Single
Private Sub cmdBersih_Click()
txtjumlah.Text = ""
txtharga.Text = ""
lblHasil = ""
txtjumlah.SetFocus
End Sub
Private Sub cmdHitung_Click()
Bayar = Val(txtjumlah.Text) * Val(txtharga.Text)
lblHasil = Format (bayar, "Rp ###,###,###") & ",-"
Cmdbersih.Enabled = True
Cmdkeluar.Enabled = True
End Sub
Private Sub cmdkeluar_click()
psn = MsgBox ("Anda yakin akan Keluar", 32 + 4, "Informasi")
If psn = vbYes Then
MsgBox "Terima kasih", 32, "Informasi"
End
Else
If psn = vbNo Then
MsgBox "Lho... Kok Ga jadi", 32, "Informasi"
End If
End If
End Sub
Private Sub Form_Load()
Cmdhitung.Enabled = false
Cmdbersih.Enabled = false
Cmdkeluar.Enabled = false
End Sub
Private Sub txtharga_Change()
bayar = Val(txtjumlah.Text) * Val(txtharga.Text)
On error Resume next
lblhasil = Format (" Rp ") & ",-"
Exit Sub
End Sub
Private Sub txtharga_KeyPress (KeyAscii as integer)
If KeyAscii = 13 then
Cmdhitung.Enabled = True
CmdHitung.SetFocus
Else
If Not (KeyAscii >= Asc("0") And keyAscii <= Asc("9") Or KeyAscii = vbKeyBack) Then
MsgBox "Hanya Boleh Memasukan angka!", 16, "Informasi"
KeyAscii = 0
End If
End If
End Sub
=>>Raal_21<<=
Jumat, 19 Juli 2013
3
(TKP)
Kami sampai di sekitar jembatan
ketika seorang perempuan datang ke arah kami seraya melambaikan tangannya.
“Aldo !”
“Rani !” Aldo dan Rani lalu
berpelukan erat. Tak lama kemudian mereka melepaskan pelukannya. “O, ya Aldi,
kenalkan ini Rani, pacarku, Rani, ini Aldi, dan sebelahnya Shinta, sepupu
Aldi,”
“Rani,”
“Aldi,”
“Shinta,”
“O, ya Ran, Aldi ini detektif yang
akan menyelidiki kasus kematian orangtua kamu,” Rani seperti terkjut. Atsmofer
pun mulai berubah. Kenyataan kasus ini makin terbaca.
“Aldo, kenapa si, kamu manggil –
manggil detektif kesini, aku ngga ingin kematian orangtua ku diungkit – ungkit
lagi!”
“Tapi Rani,”
“Ngga ada tapi – tapian!”
“Baiklah nona Rani yang manis, jika
aku tak boleh menyelidiki kasus kematian orangtuamu, bagaimana kalau aku
berkunjung ke rumahmu, anggap saja, aku dan sepupuku bertamu ke rumahmu, dalam
rangka liburan ku kali ini,” Rani tampak sedikit melunak.
“Terserah kalian saja, tapi jika
kalian ingin mencari sesuatu mengenai kematian orangtua ku, kalian tak akan menemukannya!”
“Oke nona manis,” Aku menjawab
ancaman Rani dengan gurauan, sedangkan Shinta dan Aldo terbingung – bingung dengan sifatku yang tak
terpancing emosi walaupun Rani sudah sekasar itu.
“Aldi, aku percayain kasus ini ke
kamu, aku yakin kamu bisa memecahkannya, Rani akhir – akhir ini memang berubah,
ngga kaya Rani yang dulu,”
“O, ya ngomong – ngomong tentang
Rani yang dulu, kamu ada fotonya ngga?”
“Ada nih,” Aku mengambil foto Rani
yang dulu, muungkin sangat dulu sekali, karena, terdapat beberapa perbedaan
dari tubuhnya, jikalau dari sikap, mungkin aku harus mengorek informasi lebih
dalam lagi.
“Kenapa Kak?” Aku tersenyum sembari
memberikan foto Rani yang dulu ke Aldo.
“Shinta, gimana aku ngga senyum,
lihat, pemandangan rumah TKP kasusnya seindah itu,” Ujarku seraya menunjuk
rumah Rani, yang berada hampir di tebing 90°, dan jalan menuku rumah itupun
terjal, namun kanan – kirinya terdapat bunga – bunga yang sangat indah,seperti
bunga anggrek ungu dan putih, bunga dandoffil,
eforbia, dan masih banyak yang
lainnya, jika melihat situasinya, aku teringat lagu lawas yaitu, bukit
berbunga, ‘Di bukit, indah berbunga, kau
mengajak aku ke sana, tangamu, kau sentuh di pundak, membawa aku melangkah, tak
lupa kau petik, bunga warna ungu, lalu kau selipkan di rambutku,’. Aku
tersenyum dengan lagu nostalgia ini.
“Iya kan Do, itu rumahnya Rani?”
“Iya betul, kok kamu tahu si ?”
“Karena kamu telah merani – ranikan
hatiku, ha ha ha… enggak kok, aku lihat Rani tadi berjalan ke arah sana,”
“Lho bukannya kamu tadi lagi
merhatiin fotonya Rani Kak?”
“Bodoh, seorang detektif, tidak
boleh melewatkan satu hal kecilpun”
“Kamu memang hebat Aldi,” Aldo
memujiku, aku jadi tidak enak hati, batinku.
“Sudahlah, lebih baik kita langsung
ke TKP nya, Do,”
“Ayo, mari,” Perjalanan kami menuju
rumah Rani, tidak bisa dianggap mudah, jalannya yang terjal, serta kecuramnnya
cukup membuat adrenalin terpacu, jika aku dan Shinta tidak terbiasa dengan
olahraga yang cukup keras, mungkin, kami sudah pingsan sedari tadi.
“Baiklah kawan – kawan, kita sudah
sampai,”
“Hhhh… capek, eh WAHHH… indah
banget,” Shinta yang sampai duluan langsung mengagumi kuasa tuhan yang sungguh
indah, di bumi Bandung ini. “ Kak Aldi, buruan! Ntar ngga kebagian lho!”
“Iya, pemandangannya ngga lari ini
!” Aku mengamati tempat yang membuatku hampir terperosok tadi. Kucoba
memukulnya dengan tanganku. Terdengar bunyi nyaring seperti kentongan. Aku
terkejut, ternyata, di dalam tebing ini tidak hanya menyimpan misteri tentang
Rani, tapi juga mungkin kenapa sikap Rani berubah dan misteri pembunuhan
orangtua Rani dapat terungkap secepat mungkin.
“Hei nak, bisa lebih cepat sedikit?”
Tiba – tiba halusinasi akan hantu muncul sesaat di kepalaku.
Langganan:
Postingan (Atom)

